Modern technology gives us many things.

Kolonialisme di Globalisasi Teknologi Komunikasi

0

Globalisasi memang menjadi semacam mantera di jaman modern ini. Dengan mantera ini, banyak hal diamini, ditoleransi dan dibenarkan. Tapi, di antara banyak hal itu, penindasan dan penghisapanlah yang utama. Banyak orang sebenarnya melihat dengan mata kepala sendiri akibat-akibat buruk yang disebabkan oleh Globalisasi. Namun, karena pemahaman mereka yang keliru tentang gejala ini, mereka jadi beranggapan bahwa ketidakadilan dan pemiskinan yang dibawa oleh globalisasi hanyalah sebuah dampak, sebuah efek samping – bukan inti yang hakiki dari globalisasi.

Globalisasi adalah satu gejala baru, yang khas merupakan ciri dari kapitalisme modern. Para advokat globalisasi menyatakan bahwa, karena globalisasi adalah sebuah gejala baru, maka mustahil kita menghadapinya dengan belajar dari sejarah. Anggapan bahwa karena globalisasi merambah ke seluruh dunia, maka tidak ada lagi “negeri imperialis” dan “negeri semi-kolonial”. Di sebuah dunia yang saling tergantung, kalau negeri berkembang mau selamat, ia harus mendukung kemajuan di negeri maju. Globalisasi membuat peran negara melemah. Dikatakan bahwa globalisasi meruntuhkan batas-batas negara nasional, membuat kita semakin menjadi satu “warga dunia”.

Inti dari perkembangan teknologi komunikasi adalah kemenangan para borjuis asing yang bisa kita sebut negara imperalis. Mereka meraup keuntungan begitu besar dari sayap perusahaan di beberapa negara. Memang, agaknya kita juga di untungkan oleh kehadiran mereka, karena kita dapat menikmati modernisasi dari berbagai kemajuan teknologi.

Beberapa waktu lalu, misalnya, pasar komunikasi di Indonesia di kuasai oleh perusahaan telekomunikasi dari Singapura. Tidak tanggung-tanggung, mereka menguasai 2 perusahaan telekomunikasi Indonesia yang masing-masing cukup besar menguasai pangsa pasar Indonesia. Hal inilah yang dapat



melemahkan negara kita, dimana segala komunikasi dalam negeri kita dapat di kontrol oleh negara asing, apalagi induk perusahaan mereka sama, hal itu dapat kita lihat kemungkinan akan muncul sebuah monopoli dagang yang memunculkan persaingan tidak sehat. Anehnya, pemerintah meloloskan hal ini terjadi.

Dari kejadian di atas sebenarnya terlihat adanya satu pengulangan, satu “titik nol yang lebih tinggi”. Perluasan pengaruh dan kekuasaan, mula-mula lewat perdagangan dan kemudian dengan senjata, yang dari dulu telah berlangsung dalam skala regional, kini mulai berlangsung dalam skala global. Kolonialisme melakukan apa yang tidak sanggup dilakukan perluasan kekuasaan dalam bentuk-bentuk sebelumnya, yakni menghancurkan perkembangan peradaban mandiri dari bangsa-bangsa. Pola hubungan produksi ini mendobrak isolasi (baik mutlak maupun relatif) dari berbagai bangsa di seluruh dunia. Perubahan-perubahan inilah yang memungkinkan berkembangnya kolonialisme menjadi imperialisme. Imperialisme, yang didasarkan pada ekspor modal, oligarki keuangan, peleburan birokrasi-industri-keuangan dan penggunaan kelas borjuasi komprador dapat berkembang dengan baik karena kelas berkuasa di negeri induk dapat melakukan kendali yang cukup ketat akan perputaran modal yang ia tanamkan di negeri anak. Tanpa perlu berada langsung di satu negeri, seorang kapitalis dapat membuat rakyat pekerja di negeri tersebut bekerja keras menghasilkan keuntungan baginya.

Ia dapat memastikan bahwa rakyat pekerja di negeri tersebut akan patuh kepada sistem penindasan karena kelas borjuasi nasional di negeri tersebut patuh padanya. Lebih jauh lagi, jika semua upaya pengendalian pribadinya gagal, ia dapat menggunakan kekuasaan negaranya sendiri karena ia adalah juga seorang pejabat politik.

Perkembangan televisi dalam proses identitas nasional

Tata pergaulan yang masih menjunjung tinggi nilai ketimuran juga kerap ditunjukkan di televisi melalui iklan-iklan sederhana. Seperti iklan Indomie yang mengeksplor budaya nusantara dengan bhineka tunggal ika-nya, dan kekayaan alam di indonesia yang pernah disiarkan oleh stasiun tv swasta juga merupakan salah satu bentuk implementasi pencitraan terhadap identitas nasional.

Dengan disiarkannya acara tersebut, secara tidak langsung audiens akan dapat mempersepsikan identitas nasionalnya. Berbagai bentuk yang ada dari representasi tentang kebudayaan lokal dan kekayaan alam hayati, serta tata krama yang berlaku di Indonesia melalui televisi membentuk realitas sosial di dalam realitas televisi.

Tetapi dalam perkembangannya, televisi di jadikan ajang untuk meraup uang dan mengeksplor budaya-budaya barat tanpa memfilter isi budaya tersebut. Proses masuknya budaya asing yang tanpa serapan tersebut di konsumsi oleh pemirsa televisi di negara kita, dan mereka berusaha mengaplikasikannya dalam kegiatan mereka sehari-hari. Sehingga dari sini mulai timbul jiwa konsumerisme seseorang dari iklan yang muncul di televisi, apabila sebuah produk terbaru di luncurkan, maka orang tersebut akan berusaha untuk mendapatkannya, padahal barang terbaru tersebut belum tentu baik kualitasnya.

Dari jiwa konsumerisme tersebut, tentu saja menghasilkan keuntungan yang berlipat-lipat bagi sang produsen. Dalam hal persaingan ysaha, tentu saja mereka tidak akan mau kalah dengan perusahaan rival, maka dari sini kemungkinan besar terjadi inovasi-inovasi terbaru untuk menarik perhatian para konsumen.

Masing-masing perusahaan berlomba-lomba melakukan inovasi terbaru, perkembangan paling akhir handphone adalah pesawat telefon sekaligus penerima siaran TV dan alat perekam gambar seperti handycam. Produk terbaru itu menyeruak masuk ke tengah pasar yang makin sesak persaingannya, meskipun sampai saat ini masih dalam taraf pengembangan. Perusahaan-perusahaan manufaktur handphone dan perangkat wireless masih terus berdiskusi panjang lebar, apa lompatan jauh ke depan (quantum leap) untuk peranti nirkabel (wireless handset). Bagi industri yang tumbuh pesat barangkali didefinisikan mampu menggabungkan dan memanfaatkan fasilitas video, suara, teks dan teknologi layar warna. Namun bisa jadi kemampuan menggabungkan saja tidak cukup untuk menyiasati pasar handphone yang semakin unik ini. Beberapa kali inovasi yang semula disangka akan meledak, tapi kenyataanya tak seperti yang dibayangkan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.